Artikel

Infeksi Virus Corona Pada Anak

21 Sep 2021

Infeksi Virus Corona Pada Anak Dan Tindakan Saat Terinfeksi.

WHO mencatat kasus baru (5-11 Juli 2021) sebanyak 3 juta (meningkat 10% dibanding minggu sebelumnya). Kasus kematian sampai 5 Juli lalu berjumlah 55 ribu (meningkat 3% dibanding minggu sebelumnya).

Di Indonesia, kasus baru berjumlah 243.119 atau terjadi peningkatan 44%. Angka ini persentase peningkatan tertinggi di antara 5 negara dengan kasus tertinggi dari kasus baru.

Ikatan Dokter Anak Indonesia melakukan perhitungan jumlah kasus Covid-19 pada anak di Indonesia. Kejadian Covid-19 pada anak mencapai 12,5%, dengan rincian 2,9% terjadi pada anak usia 0-5 tahun dan 9,7% terjadi pada anak usia 6-18 tahun.

Dari seluruh kasus pada anak ini, tingkat kematian mencapai 3-5%  atau setengah (50%) dari pasien meninggal ini berusia balita.

Perjalanan Penyakit disebabkan oleh Virus Corona

Pada tahun 2002, muncul SARS yang disebabkan oleh SARS Covi. Virus ini ditemukan kali pertama kali di Provinsi Guandong, wilayah selatn China.

Penyebaran SARS masuk dalam kategori epidemi sejak penyebarannya ke sejumlah negara di dunia pada Juli 2003.

Orang yang terinfeksi virus ini menimbulkan gejala demam tinggi >38 derajat Celcius, sakit kepala, gangguan pernapasan, dan sekujur tubuh terasa sakit, dan 10-20% mengalami diare dengan tingkat kematian 9,3%.

Pada 2012 tahun, muncul MERS yang disebabkan oleh MERS Covi. Virus ini ditemukan kali pertama di Arab Saudi. Tingkat kematian akibat terpapar virus ini mencapai 34,45%. Namun, virus ini sudah tidak ada pada 2004.

Pada tahun 2019, muncu Covid-19 yang disebabkan oleh SARS Covi 2. Virus ini kali pertama ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Keparahan penyakit Covid-19 diperberat dengan adanya beberapa penyakit bawaan seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.

Kenapa kasus Covid-19 pada anak tinggi di Indonesia?

Sebelum Covid-19 mewabah di Indonesia, banyak masalah kesehatan pada anak, seperti malnutrisi (gizi kurang, gizi buruk, obesitas), dan penyakit saluran pernafasan seperti pneumonia dan diare.

Selain itu, pola asuh dalam melakukan pencegahan penularan yang masih belum optimal. Misalnya, penggunaan alat pelindung diri bagi anak-anak belum dilakukan dengan efektif. Kesadaran orang tua/pengasuh untuk membatasi ruang yang rentan terhadap kontak dengan virus. Perilaku harian pengasuh/orang terdekat yang tinggal dalam satu rumah dan melakukan dekontaminasi setelah bekerja di luar rumah belum dilakukan efektif. Memudahkan penularan dan invasi virus.

Isolasi mandiri, siapa saja anak yang bisa isoman?

  • Anak dengan hasil swab PCR Covi2 positif yang tidak bergejala (asimptomatik).
  • Gejala ringan (batuk, pilek, demam, diare, muntah, ruam-ruam).
  • Anak akif, bisa makan dan minum cukup (seperti biasa).
  • Keluarga/pasien isolasi mandiri.
  • Menerapkan etika batuk.
  • Keluarga mampu memantau gejala/keluhan.
  • Pemeriksaan suhu tubuh 2 kali perhari (pagi dan malam hari).
  • Lingkungan kamar memiliki ventilasi yang baik.

Siapa yang bisa mengasuh anak dengan Covid-19 di rumah?

  • Orangtua tetap bisa merawat anak (yang masih butuh didampingi).
  • Pendamping anak dipilih dari orang tanpa komorbid (karena akan meningkatkan risiko Covid-19 yang berat).
  • Jika status orangtua positif Covid-19 bisa langsung rawat gabung.
  • Jika status orangtua negatif Covid-19 menggunakan APD dan tidur dengan jarak 2 meter di kasur terpisah.

Gejala Covid-19 pada anak seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, mual/muntah, diare, lemas, dan sesak nafas.

Laju nafas sebagai tanda bahaya:

  • < 2 bulan ≥ 60x/menit
  • 2 – 11 bulan ≥ 50x/menit
  • 1 – 5 tahun ≥ 40x/menit
  • >5 tahun ≥ 30x/menit

Anak harus segera dibawa ke rumah sakit, jika:

  • Anak cenderung lemah dan lebih banyak tidur.
  • Nafas tampak cepat.
  • Saat bernafas ada cekungan di dada sekitar ulu hati atau antar tulang iga (sela iga).
  • Cuping hidung mengembang berlebihan saat bernafas.
  • Saturasi oksigen <95%.
  • Mata merah, ruam, leher bengkak.
  • Demam > 7 hari.
  • Terjadi Kejang.
  • Tidak bisa makan dan minum.

Artikel Lainnya

Cari Dokter & Buat Janji


Kontak Kami