Artikel

Kenali Sakit Lambung pada Masa Pandemi Covid-19

21 Sep 2021

TAK bisa dipungkiri bahwa sakit lambung atau sakit maag, yang dalam istilah medis dinamakan sindroma dyspepsia, menjadi keluhan banyak orang dari dulu hingga sekarang.


Lantas apakah situasi pandemi Covid-19 saat ini berpengaruh pada keluhan sindroma dispepsia?

Seperti kita ketahui, pandemi Covid-19 ini sangat memengaruhi aktivitas kita secara keseluruhan. Yang tadinya bekerja di kantor atau di lapangan, kini diharuskan bekerja dari rumah (work from home). Tentunya hal ini akan mengubah pola aktivitas dan pola makan kita yang berdampak pada timbulnya gejala sindroma dispepsia. Belum lagi bagi teman-teman yang sedang isolasi mandiri (isoman), gejala sindroma dispepsia akan menyebabkan terganggunya asupan makanan dan minuman yang masuk, sehingga dapat mengganggu imun tubuh untuk melawan penyakit.

 

Apa itu sindroma dyspepsia?

Sindrom adalah kumpulan gejala yang muncul bersamaan dan biasanya merupakan pertanda adanya penyakit tertentu. Sindroma dispepsia dapat diartikan sebagai rasa tidak nyaman yang dirasakan pada perut bagian atas. Rasa tidak nyaman itu dapat berupa nyeri ulu hati, perut terasa penuh, kembung, rasa terbakar pada perut atas, dan rasa cepat kenyang. Keluhan ini dapat disertai dengan mual, muntah, dan sendawa.

 

Berapa sering sindroma dispepsia terjadi?

Studi yang dilakukan di Amerika dan Eropa menunjukkan prevalensi dispepsia pada orang dewasa berkisar 25 hingga 40 persen per tahun. Sedangkan di Indonesia, prevalensi dyspepsia mencapai 40 hingga 50 persen. Pada usia 40 tahun diperkirakan terjadi pada sekitar 10 juta jiwa atau 6.5 persen dari total populasi Indonesia.

 

Penyebab terjadinya sindroma dyspepsia

Terjadinya sindroma dyspepsia biasanya dipengaruhi oleh gaya hidup. Beberapa hal yang dapat menyebabkan dyspepsia antara lain:

  • Pola makan yang tidak baik seperti jadwal makan yang tidak teratur, banyak mengonsumsi makanan pedas, asam, kafein, dan soda.
  • Makan terlalu cepat dengan jumlah makanan yang terlalu banyak.
  • Langsung tidur setelah makan.
  • Berat badan berlebihan (obesitas).
  • Stres.

Selain gaya hidup, sindroma dyspepsia dapat juga disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • GERD (penyakit asam lambung naik).
  • Infeksi bakteri H. pylori pada lambung.
  • Tukak lambung atau radang lambung.
  • Efek samping dari obat-obatan golongan NSAID (aspirin, ibuprofen, diklofenak), beberapa jenis antibiotik dan kortikosteroid.

Bagaimana cara mengobati sindroma dyspepsia?

  1. Memulai pola makan yang teratur
  2. Sebisa mungkin menghindari makanan dan minuman yang dapat memicu dispepsia
  3. Makan dengan perlahan
  4. Memperhatikan porsi makanan, terkadang lebih baik dengan porsi kecil dan sering
  5. Menghindari kebiasan berbaring setelah makan (tunggu sekitar 3 jam setelah makan)
  6. Mempertahankan berat badan ideal
  7. Mengurangi stres (stres belebihan meningkatkan produksi asam lambung)
  8. Penggunaan obat-obatan seperti:
  9. H2-antagonis (Ranitidine)
  10. PPI (Omeprazole, Lansoprazole, Pantoprazole) dapat juga disertai prokinetik (domperidone) dan antibiotik jika disebabkan infeksi H. Pylori.

Sindroma dispepsia dapat dikontrol dengan penanganan yang tepat. Namun, jika muncul gejala seperti muntah darah, BAB hitam, sulit menelan, dan nyeri luar biasa pada seluruh perut kamu perlu diwaspadai dan segera konsultasikan ke dokter untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

Artikel Lainnya

Cari Dokter & Buat Janji


Kontak Kami